Batik, merupakan sebuah kerajinan dari Indonesia yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Batik di Nusantara identik dengan tanah Jawa, karena di sana merupakan pusat dari kerajinan unik yang satu ini, kota kota besar seperti Jogja, Solo, dan Pekalongan merupakan kota yang telah terkenal dengan kain Batik ini.
Tapi tak disangka, sebuah pulau yang ada di sebelah utara Jawa Timur pun memiliki aset berharga bangsa Indonesia ini. Pulau tersebut ialah Pulau Madura, pulau yang terkenal akan karapan sapinya ini juga punya kain Batik yang mempunyai Motif khas Madura. Corak dan ragamnya begitu bebas dan unik. Satu helai kain batiknya dibuat dengan keterampilan individu. Di Madura sendiri, membatik merupakan budaya yang diwariskan turun-temurun.
Batik Madura mempunyai keunikan tersendiri, yaitu warnanya yang semakin lama akan semakin cerah.
Ciri batik madura adalah :
• Memiliki warna yang cerah dan beragam seperti merah, kuning, hijau, dan biru.
Walau cenderung memiliki warna yang cerah bukan berarti pewarnaan memakai bahan kimia, justru sebaliknya warna-warna tersebut dihasilkan dari pewarna alam yaitu soga alam seperti mengkudu dan tingi untuk warna merah. Daun tarum untuk warna biru, kulit mundu ditambah tawas untuk efek warna hijau. Warna terang dan gelapnya dihasilkan melalui lamanya perendaman kain selama 1 hingga 3 bulan, bahkan ada yang mencapai 1 tahun. Perendaman ini juga akan membuat warna kain batik lebih awet dari biasanya.
• Ciri yang kedua ialah Batik Madura memiliki banyak tarikan garis pada satu desainnya.
Ragam motifnya diambil dari motif tumbuhan, binatang, serta motif kombinasi hasil kreasi pembatiknya.
Batik madura sendiri, terdapat di berbagai pelosok Pulau Madura seperti Pamekasan, Bangkalan, Sumenep, dan Sampang. Terutama itu temukan di Tanjungbumi (Bangkalan) dan di Pamekasan.
Walau Batik terdapat di berbagai daerah dan bermacam macam motif, semuanya merupakan kekayaan budaya Indonesia. Maka dari itu mari kita lestarikan dan kembangkan Batik di mata dunia, dan jangan lupa untuk merayakan Hari Batik tiap tanggal 2 Oktober.
Sumber Artikel & Gambar: Wikipedia, Wonderfull Indonesia
Bali, sebuah pulau di ujung timur jawa, yang mempunyai eksotisme luar biasa. Tak hanya terdapat keindahan alam yang dapat memanjakan mata, Bali mempunyai berbagai seni dan tradisi.
Kesenian di Bali tak sekedar berupa tari-tarian, di Bali ada suatu seni beladiri membanting, yaitu "Mepatigan".
Mepatigan merupakan perwujudan pemujaan kepada Dewi Sri, Dewi Kemakmuran menurut kepercayaan warga Bali.
Dalam pertunjukannya pemain menggunakan kain Bali yang berwarna merah, putih, hitam yang melambangkan tri dhatu, yang mempunyai makna filosofi yang dalam.
Para pemain dalam pertunjukan ini pasti merasakan sakit dan senang, menyatukan antara sakit adalah senang dan senang adalah sakit yang merupakan unsur ruwa bineda.
Berikut penjelasannya, yang saya ketahui dari I Made Mendra, Guide Tour saya sewaktu saya di Bali =>
Secara umum, nama depan orang Bali menunjukkan urutan kelahiran:
1. Wayan/Putu/Gede
Untuk anak pertama di Bali baik lelaki atau perempuan pasti memiliki nama depan wayan atau putu atau gede.
Jadi misalkan saja anda kenal dengan orang Bali dan namanya wayan pasti dia adalah anak pertama.

Mider projo ini dilakukan Walikota Solo dengan bersepeda. Walikota bersama seluruh Muspida, Kepala Dinas, Camat, dan Lurah turun langsung ke jalan untuk mencari solusi memecahkan masalah yang timbul di kampung-kampung dan permasalahan yang ada di warga terutama di kalangan bawah.
Kegiatan Mider projo ini bukanlah kegiatan baru yang dilakukan oleh walikota Solo beserta jajarannya, namun kegiatan ini telah dijalani oleh Bapak Ir. Joko Widodo (@jokowi_do2) sejak tujuh tahun lalu setiap Jumat pagi. Beliau merupakan pelopor kegiatan Mider Projo di kalangan pemerintahan.
Selain itu "Mider Projo" merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan pemerintah kota surakarta untuk menggenjot penggunaan moda transportasi hemat energi dan bebas polusi, bersama dengan jajaran pemerintah kota, walikota, wakil walikota Solo.

Acara ini dilakukan setiap hari Jumat dengan start Loji Gandrung atau Balaikota Surakarta. Sesuai dengan namanya “ mider praja “, tentu saja kegiatan ini akan dilakukan dengan melewati sekaligus meninjau secara langsung beberapa titik yang direncanakan serta mengawal program-progam pemerintah kota.
Bagi warga Solo, bertemu langsung dengan Wali Kota dan Wakil Wali Kota untuk menyampaikan keluhan ataupun masukan bukanlah sesuatu yang langka atau mewah.
Published with Blogger-droid v2.0.6

Bentuk gunung memiliki maksud dari masyarakat jawa atas rasa syukur pada sang pencipta.
Dalam grebeg sudiro gunungan disusun dari ribuan kue keranjang, kue khas orang tionghoa saat menyambut imlek.
Gunungan ini diarak disekitar kawasan Sudiroprajan, diikuti pawai dari kesenian Tionghoa dan Jawa. Dari kesenian barongsai, tarian, pakaian tradisional, adat keraton sampai kesenian kontemporer akan digelar di sepanjang jalan kawasan Sudiroprajan. Arak-arakan akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie di depan Pasar Gede.

.
Perayaan berakhir dengan dinyalakannya lentera atau lampion berbentuk teko yang digantung di atas pintu gerbang Pasar Gede, penyalaan ini juga diikuti penyalaan lampion ditempat-tempat lain.
Sejarah Grebeg Sudiro Sudiroprajan adalah sebuah kelurahan di kecamatan Jebres di Kota Solo. Di kawasan ini warga China peranakan sudah puluhan tahun menetap
dan berdampingan dengan masyarakat jawa. Seiring waktu, diantara kedua etnis ini terjadi perkawinan campuran dan menciptakan generasi baru. Untuk menunjukkan akulturasi ini mereka membuat tradisi baru.
Meskipun bukan perayaan dari masa lalu, tapi perayaan ini merupakan pengembangan tradisi yang telah ada sebelumnya, Buk Teko. Buk teko (dari kata buk tempat duduk dari semen di tepi jembatan atau di depan rumah, sedangkan kata teko ialah poci, tempat air teh) adalah tradisi syukuran menjelang imlek dan sudah dirayakan semenjak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939).
Grebeg sudiro telah berkembang menjadi dialog elegan antara etnis Tionghoa dan Jawa hingga saat ini.
Maulid adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam ajaran Islam. Banyak tiap daerah di Indonesia yang merayakan perayaan ini. Solo juga menggelar perayaan Maulid Nabi dengan meriah dan khidmat. Ada dua acara penting dan besar, yaitu Sekaten dan Grebeg Maulud. Dua acara besar yang mengundang banyak wisataan untuk melihatnya dari dekat.
Sekaten adalah upacara perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini berlangsung selama 7 hari, dan di tahun ini jatuh pada tanggal 17 - 24 Januari 2013. Sekaten merupakan tradisi peninggalan dari Kerajaan Demak. Konon, nama Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadatain. Ternyata, upacara Sekaten sangat erat dengan sejarah penyebaran agama Islam di Solo.
Selain itu, terdapat pasar malam dalam perayaan Sekaten. Pasar malam berlangsung selama perayaan Sekaten, bahkan berminggu-minggu sebelumnya. Pasar malam tersebut berada di alun-alun utara Solo. Di dalam.pasar malam, ada banyak jenis permainan seperti, komedi putar, odong-odong, tong setan, rumah hantu dan masih banyak lagi. Serta banyak penjual makanan yang menjajakan kuliner-kuliner
khas Solo.
Puncak acara sekaten adalah saat Grebeg Maulud. Grebeg Maulud bertepatan pada tanggal 24 Januari 2013 tahun ini atau tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam.
Dalam Grebeg Maulud terdapat gunungan, yaitu acara puncak dari rangkaian upacara perayaan Maulid Nabi. Gunungan berisi hasil-hasil bumi berupa kacang-kacangan, buah, berbagai macam sayuran dan masih banyak lagi yang disusun melingkar. Hasil-hasil bumi di gununggan adalah hasil-hasil bumi yang terbaik di Solo.

Grebeg Maulud ditandai dengan dikeluarkannya gunungan makanan dari dalam kompleks kraton dan dibawa menuju Masjid Agung.Kraton. Gunungan tersebut akan direbutkan oleh masyarakat Solo.
Setiap orang akan bersaing sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan hasil-hasil bumi yang berada di dalam gunungan.
Bukan hanyak karena kualitas hasil buminya, namun gunungan dipercaya juga menyimpan banyak rezeki dan berkah. Sebelum diperebutkan, gunungan di doakan terlebih dulu di dalam keraton agar menjadi berkah bagi masyarakat Solo.
Sebagai warisan dan adat turun menurun, tradisi seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan.
Sekian posting dari saya Terimakasih ^_^ Jangan lupa komentar yha,
Malam 1 (Satu) Suro bagi sebagian
masyarakat Jawa (khususnya) masih
dianggap sakral. Terlebih jika malam
satu Suro tersebut jatuh pada malam
Jum’at Legi. Berbagai ritual (atau)
tradisi senantiasa mengiringi malam
satu Suro. Diantaranya ada yang tapa
bisu, kungkum, ataupun sekedar
tirakatan dengan cara lek-lekan secara
bersama-sama di pos ronda. Tradisi
unik menyambut satu Suro juga ada di
Kota Surakarta tepatnya di Keraton
Kasunanan Surakarta. Tradisi unik
yang diadakan rutin setahun sekali
tersebut yakni Kirab Kebo Bule dan
Pusaka Keraton.
Kebo bule atau kerbau albino ini
memang binatang peliharaan Keraton
Surakarta. Konon nenek moyang
kerbau ini merupakan binatang
kesayangan Sri Susuhunan
Pakubuwono II. Sehingga kebo bule
ini dikeramatkan, dan menjadi salah
satu pusaka paling penting di Keraton
Surakarta Hadiningrat. Kirab atau arak-
arakan Kebo bule ini sendiri biasanya
dimulai pada tengah malam. Kerbau
(yang kandangnya ada di alun-alun
kidul), tanpa digiring akan berjalan
sendiri menuju halaman keraton. Jika
sudah begitu, berarti kirab siap
dimulai.
Kebo atau kerbau bule ini sering
disebut dengan kebo kyai Slamet
lantaran secara turun temurun,
kerbau albino ini dipercaya sebagai
penunggu pusaka kyai slamet (salah
satu pusaka milik keraton Surakarta
yang kasat mata). Dalam kirab malam
satu Suro, kebo kyai Slamet selalu
berada di barisan paling depan
sekaligus bertindak sebagai cucuk
lampah kirab. Di belakangnya
menyusul barisan para Putra Sentana
Dalem (kerabat keraton) yang
membawa pusaka, lampu-lampu
keraton maupun obor bambu dengan
mengenakan busana Jawi lengkap,
kemudian diikuti oleh masyarakat Solo
dan sekitarnya yang hendak
menyaksikan acara kirab secara
langsung.
Kirab biasanya dimulai dari halaman
keraton menuju alun-alun utara,
Gladak, Jl. Mayor Kusmanto, Jl. Kapten
Mulyadi, Jl. Veteran, Jl. Yos Sudarso, Jl.
Slamet Riyadi, Gladak, dan kembali ke
keraton atau lebih kurang sejauh 3
km. Adapun kirab tersebut
dimaksudkan sebagai penolak bala.
Anda tertarik dan ingin menyaksikan
secara langsung kemeriahan kirab 1
Suro ini?
Monggo, tindhak dhateng Solo!
Kita tahu Sulawesi merupakan pulau yang penuh dengan pesona. Pesona Sulawesi tersebut meliputi kekayaan alam hingga keanekaragaman budaya. Salah satu provinsi yang ada di Sulawesi ialah Provinsi Sulawesi Utara. Provinsi Sulawesi Utara merupakan daerah yang kaya akan sumber daya alam, selain itu Sulawesi Utara juga kaya akan seni dan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang. Berbagai seni dan budaya terlahir dari berbagai suku yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Berbagai suku yang ada di sana justru menjadikan daerah nyiur melambai semakin indah dan mempesona. Berbagai pentas seni dan budaya maupun tradisi dari nenek moyang memberikan warna tersendiri bagi provinsi yang terkenal akan kecantikan dan ketampanan nyong dan nona Manado
Secara garis besar penduduk di Sulawesi Utara terdiri atas 3 suku besar yakni suku Minahasa, suku Sangihe dan Talaud dan suku Bolaang Mongondow. Ketiga suku/etnis besar tersebut memiliki subetnis yang memiliki bahasa dan tradisi yangberbeda-beda. Tak heran Provinsi Sulawesi Utara terdapat beberapa bahasa daerah seperti Toulour, Tombulu, Tonsea Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan dan Bantik (dari Suku Minahasa), Sangie Besar, Siau, Talaud (dari Sangihe dan Talaud) dan Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang (dari Bolaang Mongondow). Propinsi yang terkenal akan semboyan torang samua basudara (kita semua bersaudara) hidup secara rukun dan berdampingan beberapa golongan agama seperti Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Namun dari keanekaragaman tersebut bahasa Indonesia masih menjadi bahasa pemersatu dari berbagai suku dan golongan.
Dari keanekaragaman suku disana terdapat berbagai macam budaya pula, dan salah satunya yaitu Budaya Mapalus.
Mapalus merupakan sebuah tradisi budaya suku Minahasa dimana dalam mengerjakan segala sesuatu dilakukan secara bersama-sama atau gotong royong, misalnya: perkumpulan atau asosiasi usaha. Budaya mapalus mengandung arti yang sangat mendasar.
Mapalus dikenal sebagai Local Spirit and Local Wisdom masyarakat di Minahasa, yang didalamnya terpatri dan berkohesi tiga jenis hakikat dasar pribadi manusia dalam kelompoknya, yaitu:
Touching Hearts , Teaching Mind , dan Transforming Life. Mapalus adalah hakikat dasar dan aktivitas kehidupan orang Minahasa (Manado) yang terpanggil dengan ketulusan hati nurani yang mendasar dan mendalam (touching hearts) dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab menjadikan manusia dan kelompoknya (teaching mind) untuk saling menghidupkan dan menyejahterakan setiap orang dan kelompok dalam komunitasnya (transforming life). Menurut buku The Mapalus Way, mapalus sebagai sebuah sistem kerja yang memiliki nilai-nilai etos seperti, etos resiprokal, etos partisipatif, solidaritas, responsibilitas, gotong royong, good leadership , disiplin, transparansi, kesetaraan, dan trust.
Seiring dengan berkembangnya fungsi-fungsi organisasi sosial yang menerapkan kegiatan-kegiatan dengan asas Mapalus, saat ini, Mapalus juga sering digunakan sebagai asas dari suatu organisasi kemasyarakatan di Minahasa. Mapalus berasaskan kekeluargaan, keagamaan, dan persatuan dan kesatuan. Bentuk Mapalus, antara lain:
- Mapalus tani
- Mapalus nelayan
- Mapalus uang
- Mapalus bantuan duka dan perkawinan dan,
- Mapalus kelompok masyarakat.
Dalam penerapannya, Mapalus berfungsi sebagai daya tangkal bagi resesi ekonomi dunia, sarana untuk memotivasi dan memobilisasi manusia bagi pemantapan pembangunan, dan merupakan sarana pembinaan semangat kerja produktif untuk keberhasilan operasi mandiri, misalnya:
program intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian .
Prinsip solidaritas yang tercermin dalam Mapalus terefleksi dalam perekonomian masyarakat di Minahasa, yaitu dikenalkannya prinsip ekonomi Tamber. Prinsip ekonomi Tamber merujuk
pada suatu kegiatan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, atau warga sewanua (sekampung) secara sukarela dan cuma-cuma, tanpa menghitung-hitung atau mengharapkan balas jasa.
Prinsip ekonomi Tamber berasaskan kekeluargaan. Dari segi motivasi adat, prinsip ini
mengandung suatu makna perekat kultural (cagar budaya) yang mengungkapkan juga kepedulian
sosial, bahkan indikator keakraban sosial.
Faktor kultural prinsip ekonomi Tamber berdasarkan keadaan alam Minahasa yang subur dan
berlimpah, dan tipikal orang Minahasa yang cenderung rajin dan murah hati.
Itulah sedikit artikel tentang budaya Mapalus di Sulawesi Utara yang bereferensi dari berbagai sumber.
Semoga artikel tersebut dapat bermanfaat dan semakin menjadikan kita bangga akan seni budaya kita sendiri
Aneka tanaman bunga sesaji warna warni terhampar di kebun Desa Mambal. Ada Pacar Cina, Marigold, Pandan, Bunga Biru, Hortensia dan lain lain.
Karena itu desa ini sering disebut "Desa Bunga".
Umur tanaman bunga sesaji tidak lama, hanya bertahan sepuluh bulan. Pada umur itu tanaman bunga sesaji harus dicabut. Tanahnya digaru dan ditanami bibit baru. Itu sebabnya tanaman bunga sesaji disebut tanaman semusim. Artinya tanamannya hanya hidup sebentar.
Dari desa ini bunga bunga dikirim ke seluruh pelosok Bali.
Wah, pasar pasar di Bali penuh dengan bunga warna warni. Ada yang ditaruh dalam wadah daun yang disebut "Canang". Ada berupa tangkai tangkai bunga utuh.
Warga Bali membutuhkan banyak bunga untuk dipakai sesaji di jalan, di rumah, atau dipura tiga kali sehari. Bisa dibayangkan berapa banyak bunga yang harus dipanen tiap hari. Bunga bunga itu disajikan untuk para Dewa agar memberikan kebaikan pada Pulau Bali.Bunga sesaji selalu mengharumkan Pulau Dewata. Orang Bali senang menghirup harumnya. Warga yakin, Dewa Dewa juga senang mencium wanginya.
sumber: majalah Bobo 13 Juli 2006 hal 26, dengan pengeditan seperlunya
Trunyan yakni salah satu desa tua di Bali.
Sisa –sisa lahar yang membeku dan berwarna hitam yang tersebar merata hampir di seluruh kawasan menjadi suatu daya tarik bagi setiap pengunjung.
Sedangkan rute obyek yang dilalui, menghubungkan wisata Kawasan Batur dengan wisata Tampaksiring dan Pura Besakih.
| Tengkorak Terunyan |
Desa Trunyan yang memiliki banyak keunikan terletak di pinggir danau Batur dan dikelilingi tebing bukit. Konon, ada sebuah pohon Taru Menyan yang menebarkan bau sangat harum. Konon…Bau harum itu mendorong Ratu Gede Pancering jagat untuk mendatangi sumber bau.
Beliau bertemu dengan Ida Ratu Ayu Dalem Pingit di sekitar pohon cemara landing. Disanalah kemudian mereka kawin dan disaksikan oleh penduduk desa hutan landung yang sedang berburu. Taru menyan itulah yang telah berubah menjadi seorang dewi yang tidak lain adalah istri dari Ida Ratu pancering jagat.
Sebelum meresmikan pernikahan, Ratu Gede mengajak orang desa cemara landung untuk mendirikan sebuah desa bernama taru menyan yang lama kelamaan menjadi Trunyan. Desa ini tepatnya berada di kecamatan Kintamani, kabupaten bangli.
Trunyan memiliki banyak keunikan dan daya tariknya paling tinggi adalah keunikan dalam memperlakukan jenasah warganya.Tidak seperti umat hindu umumnya di bali yang melangsungkan upacara ngaben untuk pembakaran jenasah di Trunyan, jenasah tidak dibakar melainkan hanya diletakkan di tanah pekuburan.
Justru tengkorak tengkorak itulah yang menjadi daya tarik trunyan sebagai desa kuno dan dianggap sebagai desa bali aga atau bali asli.Trunyan memiliki tiga tiga jenis kuburan yang menurut tradisi desa trunyan ketiga jenis kuburan itu diklasifikasikan berdasarkan umur orang, meninggal keutuhan jenasah dan cara penguburan.Kuburan utama adalah yang dianggap paling suci dan paling baik. Jenasah yang dikuburkan hanyalah jenasah yang jasadnya utuh, tidak cacat dan jenasah yang proses meninggalnya dianggap wajar atau bukan bunuh diri serta kecelakaan.
Kuburan yang kedua disebut kuburan muda yang khusus diperuntukkan bagi bayi dan orang dewasa yang belum menikah. Namun tetap dengan syarat jenasah tersebut harus utuh dan tidak cacat.Kuburan yang ketiga disebut setra bantas, khusus untuk jenasah yang cacat dan yang meninggal karena salah pati maupun meninggal karena tidak wajar misalnya kecelakaan dan bunuh diri.Dari ketiga jenis kuburan itu, yang paling menarik adalah kuburan utama atau setra wayah. Kuburan ini berlokasi sekitar 400 meter di bagian utara desa dan dibatasi oleh tonjolan kaki tabing bukit.
Sebagian badannya dari bagian dada ke atas dibiarkan terbuka tidak terkubur tanah. Jenasah tersebut hanya dibatasi dengan ancak saji yang terbuat dari sejenis bamboo membentuk semacam kerucut/ yang digunakan untuk memagari jenasah.
Terdapat 7 liang lahat dan jika semua liang lahat sudah penuh dan ada lagi jenasah baru yang akan dikubu jenasah yang lama dinaikkan dari lubang dan jenasah yang baru akan menempati lubang tersebut.
Jenasah lama akan diatur begitu saja di pinggir lubang. Jadi jangan kaget jika di setra wayah berserakan tengkorak manusia yang yang tidak boleh ditanam maupun dibuang.Keunikan trunyan yang lain adalah peninggalan purbakala . Prasasti trunyan tahun saka 891 masehi menyebutkan keberadaan sebuah pura yang bernama Pura pancering jagat. Di pura ini terdapat bangunan suci meru yang bertumpang tujuh. Di dala meru tersimpan sebuah arca batu megalitik setinggi kurang lebih 4 meter yang oleh masyarakat trunyan sangat disakralkan.
Arca tersebut dikenal dengan nama Arca da donta. Tempat berstananyan ratu gede pancering jagat. Meru tumpang tujuh tersebut dianggap sebagai simbol lelaki. Simbol perempuan ada pada pelinggih Ida Ratu Ayu dalem pingit berupa meru tumpang tiga yang dilengkapi dengan lambang yang tak dapat diukur dalamnya . Linggih simbol purusa pradana menurut kepercayaan masyarakat trunyan dan orang bali lainnya merupakan simbol kesuburan. Trunyan juga mempunyai keunikan lain yakni, Tari Barong Brutuk, yang dipercayai penjelmaan dari Ratu Pancering Jagat .


Follow Us