Showing posts with label Dari Solo untuk Indonesia. Show all posts
Solo the spirit of Java, sebagai kota yang menjadi pusat budaya, kota ini selalu menyajikan event-event budaya kepada masyarakat. Salah satu event budaya yang ada di kota Bengawan ini ialah SIPA, Solo International Performing Arts, sebuah event pertunjukan seni budaya tahunan berskala Internasional.

Berbagai seni budaya ditampilkan di atas panggung megah gelaran Solo International Performing Arts.Mulai dari seni tari, seni musik, hingga seni teater.

Para pelaku seni dari berbagai belahan dunia ikut mengambil bagian dalam gelaran ini. Mulai dari negara tetangga Malaysia, kemudian Jepang, China, Korea Selatan, India, Inggris, Swedia, dan beberapa negara lain mengirim para seniman terbaik mereka. Mereka menunjukkan kemampuan terbaik mereka untuk semua masyarakat yang menyaksikan acara ini.

SIPA sendiri diselenggarakan pertama kali pada tahun 2009 dan sekarang tercatat sebagai event tahunan kota Solo.

Berikut ini pelaksanaann SIPA dari tahun ke tahun.

Solo International Performing Art 2009 (SIPA 2009)
Tema : "Arts Brings Unity, Unity Brings Harmony"
Waktu : 7 Agustus 2009 - 10 Agustus 2009
Lokasi : Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, indonesia

SIPA 2010
Tema : "Nature Inspires The Soul of Art"
Waktu : 16 Juli 2010  - 18 Juli 2010
Lokasi : Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Indonesia

SIPA 2011
Tema : “Glorious Mask” menggambarkan segala kehidupan
yang berjaya di balik topeng.
Waktu : 1 Juli 2011 - 3  Juli 2011
Lokasi : Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Indonesia

SIPA 2012
Tema : "Save Our World"
Waktu : 28 September 2012 - 30 September 2012
Lokasi : Pamedan, Istana Mangkunegaran, Solo, Indonesia

Sipa 2013
Tema : "The Legend, History of World Culture"
Waktu : 20 September 2013 - 22 September 2013
Lokasi : Benteng Vastenberg, Solo, Indonesia



Acara ini terus mengeksplorasi bentuk keindahan untuk memanjakan para penonton. Dengan menjunjung tagline kota ini "Solo Kota Budaya", Solo International Performing Arts benar-benar senakin menguatkan bahwa Solo sebagai pusat budaya.

Untuk info lain, silahkan kunjungi : http://sipafestival.com
Helatan Solo Batik Carnival (SBC) semakin memperkokoh brand image batik di Indonesia, dengan adanya SBC menjadi sarana untuk mempresentasikan dan memvisualkan potensi batik yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, khususnya di Solo.

Solo Batik Carnival diselenggarakan pertama kali pada tahun 2008. Kini perjalanan SBC telah mencapai tahun ke 6, setiap tahunnya SBC mengusung konsep yang berbeda beda, perbedaan konsep itu yang merupakan dinamika kreatifitas yang tak pernah padam.

Walikota Solo bersama salah 1 peserta SBC 6

Gelaran SBC 6 mengambil tema "Earth to Earth" atau dalam bahasa jawa "Memayu Hayuning Bawono".
Tema ini dipakai karena untuk mengapresiasi bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari elemen dasar lingkungan yang meliputi :
Air, Udara, Api, dan Tanah (Bumi)




Keempat unsur tersebut saling mendukung, melengkapi, dan menpengaruhi. Gelaran SBC 6 mencoba menterjemahkan masing masing elemen ini dan mengaplikasikan dalam bentuk kostum karnaval dengan segala bentuk keindahan yang elegan bahkan glamour. Sekian posting dari saya Terimakasih ^_^

Referensi gambar dan artikel : 
Plaza Edisi 3/Juni/2013
goenzales.blogspot.com
twitter.com/sbc_2013

Selain mempunyai sentra produsen di kampung Batik Laweyan dan Kauman, Kota Solo juga mempunyai pasar penjualan kain batik, pasar ini merupakan pusat dari pasar batik di Indonesia, pasar tersebut adalah pasar Klewer.

sumber:joglosemar.co.id
Pasar yang bersebelahan dengan keraton Kasunanan Surakarta ini, merupakan surga belanja bagi wisatawan yang cinta akan batik. Di pasar ini koleksi batiknya beraneka ragam, baik dari jenis maupun motifnya, harga yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Kenapa disebut Pasar Klewer?
Asal usul nama Pasar Klewer yaitu karena para pedagang di sini menjajakan batiknya dengan cara dipanggul di pundak, sehingga batiknya terlihat berkleweran atau berjuntaian. Karena itulah pasar ini disebut dengan nama Pasar klewer.

Selain batik Solo (batik asli Surakarta), sentra grosir kain batik terbesar di Indonesia ini juga menyediakan ragam batik dari daerah-daerah lain, seperti Banyumas, Yogyakarta, Pekalongan, Madura, Betawi, dan kota-kota lainnya.

Selain batik, pasar ini juga menjual barang kebutuhan lain, seperti aneka kerajinan, barang keperluan rumah tangga, pakaian non batik, dan lainnya.

sumber jajanku.com
Jika telah lelah berbelanja mengelilingi pasar tekstil ini, Anda dapat berjalan ke depan ataupun samping pasar. Berbagai wisata kuliner Solo telah siap menjadi tempat melepas lelah sekaligus mencicipi aneka makanan khas Solo. 
"Mider Projo" atau "keliling kampung". Keliling dari kampung ke kampung untuk bersosialisasi dengan rakyat. Mider Projo merupakan salah satu kesempatan bagi warga Solo, untuk dapat berdialog langsung dengan Pemkot Solo, sehingga keluhan atau usulan dari warga Solo, dapat tersampaikan saat itu juga kepada pengambil kebijakan.



Mider projo ini dilakukan Walikota Solo dengan bersepeda. Walikota bersama seluruh Muspida, Kepala Dinas, Camat, dan Lurah turun langsung ke jalan untuk mencari solusi memecahkan masalah yang timbul di kampung-kampung dan permasalahan yang ada di warga terutama di kalangan bawah.
Kegiatan Mider projo ini bukanlah kegiatan baru yang dilakukan oleh walikota Solo beserta jajarannya, namun kegiatan ini telah dijalani oleh Bapak Ir. Joko Widodo (@jokowi_do2) sejak tujuh tahun lalu setiap Jumat pagi. Beliau merupakan pelopor kegiatan Mider Projo di kalangan pemerintahan.
Selain itu "Mider Projo" merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan pemerintah kota surakarta untuk menggenjot penggunaan moda transportasi hemat energi dan bebas polusi, bersama dengan jajaran pemerintah kota, walikota, wakil walikota Solo.



Acara ini dilakukan setiap hari Jumat dengan start Loji Gandrung atau Balaikota Surakarta. Sesuai dengan namanya “ mider praja “, tentu saja kegiatan ini akan dilakukan dengan melewati sekaligus meninjau secara langsung beberapa titik yang direncanakan serta mengawal program-progam pemerintah kota.
Bagi warga Solo, bertemu langsung dengan Wali Kota dan Wakil Wali Kota untuk menyampaikan keluhan ataupun masukan bukanlah sesuatu yang langka atau mewah.

Published with Blogger-droid v2.0.6
Grebeg Sudiro merupakan salah satu agenda budaya yang disusun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo sejak 2007. Grebeg Sudiro, diperingati 7 hari sebelum Imlek. Acara ini digelar untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek dengan menyajikan gunungan dari ribuan kue keranjang yang dikirabkan di sekitar Pasar Gede Solo. Puluhan peserta berbusana tradisional Jawa dan Tionghoa akan mengiringi kirab gunungan dengan membawa lampion. Selain itu, Grebeg Sudiro juga dimeriahkan oleh penampilan liong, barongsai, serta kesenian khas Tionghoa dan Jawa lainnya.

gunungan grebegsudiro

Bentuk gunung memiliki maksud dari masyarakat jawa atas rasa syukur pada sang pencipta.
Dalam grebeg sudiro gunungan disusun dari ribuan kue keranjang, kue khas orang tionghoa saat menyambut imlek.
Gunungan ini diarak disekitar kawasan Sudiroprajan, diikuti pawai dari kesenian Tionghoa dan Jawa. Dari kesenian barongsai, tarian, pakaian tradisional, adat keraton sampai kesenian kontemporer akan digelar di sepanjang jalan kawasan Sudiroprajan. Arak-arakan akan berhenti di depan Klenteng Tien Kok Sie di depan Pasar Gede.

liong grebeg sudiro
.
Perayaan berakhir dengan dinyalakannya lentera atau lampion berbentuk teko yang digantung di atas pintu gerbang Pasar Gede, penyalaan ini juga diikuti penyalaan lampion ditempat-tempat lain.
Sejarah Grebeg Sudiro Sudiroprajan adalah sebuah kelurahan di kecamatan Jebres di Kota Solo. Di kawasan ini warga China peranakan sudah puluhan tahun menetap
dan berdampingan dengan masyarakat jawa. Seiring waktu, diantara kedua etnis ini terjadi perkawinan campuran dan menciptakan generasi baru. Untuk menunjukkan akulturasi ini mereka membuat tradisi baru.
Meskipun bukan perayaan dari masa lalu, tapi perayaan ini merupakan pengembangan tradisi yang telah ada sebelumnya, Buk Teko. Buk teko (dari kata buk tempat duduk dari semen di tepi jembatan atau di depan rumah, sedangkan kata teko ialah poci, tempat air teh) adalah tradisi syukuran menjelang imlek dan sudah dirayakan semenjak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939).
Grebeg sudiro telah berkembang menjadi dialog elegan antara etnis Tionghoa dan Jawa hingga saat ini.
Published with Blogger-droid v2.0.6
Solo, Kota yang berslogan, "Solo The Spirit Of Java", slogan ini memang sangat pas disematkan pada kota ini, kota Solo merupakan kota yang penuh dengan tradisi yang banyak mengundang wisatawan lokal maupun mancanegara, salah satu tradisi yang paling populer yaitu Sekaten dan Grebeg Maulud, acara yang diadakan tiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan acara yang dinanti masyarakat dari dalam maupun luar kota Solo tiap tahun.

Maulid adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW dalam ajaran Islam. Banyak tiap daerah di Indonesia yang merayakan perayaan ini. Solo juga menggelar perayaan Maulid Nabi dengan meriah dan khidmat. Ada dua acara penting dan besar, yaitu Sekaten dan Grebeg Maulud. Dua acara besar yang mengundang banyak wisataan untuk melihatnya dari dekat.

Sekaten adalah upacara perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Upacara ini berlangsung selama 7 hari, dan di tahun ini jatuh pada tanggal 17 - 24 Januari 2013. Sekaten merupakan tradisi peninggalan dari Kerajaan Demak. Konon, nama Sekaten berasal dari bahasa Arab, yaitu syahadatain. Ternyata, upacara Sekaten sangat erat dengan sejarah penyebaran agama Islam di Solo.





Selain itu, terdapat pasar malam dalam perayaan Sekaten. Pasar malam berlangsung selama perayaan Sekaten, bahkan berminggu-minggu sebelumnya. Pasar malam tersebut berada di alun-alun utara Solo. Di dalam.pasar malam, ada banyak jenis permainan seperti, komedi putar, odong-odong, tong setan, rumah hantu dan masih banyak lagi. Serta banyak penjual makanan yang menjajakan kuliner-kuliner
khas Solo.
Puncak acara sekaten adalah saat Grebeg Maulud. Grebeg Maulud bertepatan pada tanggal 24 Januari 2013 tahun ini atau tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam.
Dalam Grebeg Maulud terdapat gunungan, yaitu acara puncak dari rangkaian upacara perayaan Maulid Nabi. Gunungan berisi hasil-hasil bumi berupa kacang-kacangan, buah, berbagai macam sayuran dan masih banyak lagi yang disusun melingkar. Hasil-hasil bumi di gununggan adalah hasil-hasil bumi yang terbaik di Solo.


 
Grebeg Maulud ditandai dengan dikeluarkannya gunungan makanan dari dalam kompleks kraton dan dibawa menuju Masjid Agung.Kraton. Gunungan tersebut akan direbutkan oleh masyarakat Solo.
Setiap orang akan bersaing sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan hasil-hasil bumi yang berada di dalam gunungan.
Bukan hanyak karena kualitas hasil buminya, namun gunungan dipercaya juga menyimpan banyak rezeki dan berkah. Sebelum diperebutkan, gunungan di doakan terlebih dulu di dalam keraton agar menjadi berkah bagi masyarakat Solo.
Sebagai warisan dan adat turun menurun, tradisi seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan.

Sekian posting dari saya Terimakasih ^_^ Jangan lupa komentar yha,
Event Solo International Ethnic Music (SIEM) yang dijadwalkan 4-8 Juli 2012 berubah konsep. Namanya pun tak lagi SIEM melainkan Kereta Kencana World Music Festival.
Ketua Festival SIEM, Bambang Sutejo mengungkapkan perubahan konsep dan nama acara itu tujuannya agar lebih fleksibel, baik dari sisi pemilihan tempat penyelenggaraan maupun jenis musik yang ditampilkan. “Kami tidak ingin festival itu dibatasi oleh administrasi kewilayahan, dalam arti festival bisa diselenggarakan di manapun, tak hanya di Solo,” ujarnya.
Namun demikian Bambang menolak mengungkapkan lokasi penyelenggaraan acara itu, menyusul tak diperbolehkannya Taman Balekambang menjadi lokasi penyelenggaraan. Pihaknya masih mengurus perizinan tempat itu.
Sedangkan mengenai fleksibilitas dari sisi jenis musik, Bambang mengakui kata etnik juga sengaja dihilangkan sehingga diharapkan semua jenis musik bisa ikut serta dalam festival itu. Namun mengenai jenis musik itu Bambang tak memberi banyak keterangan karena ada kurator yang lebih memahaminya. Dia hanya mengatakan soal tempat akan tetap mempertahankan konsep awal yakni menggunakan tempat-tempat yang bernilai sejarah.
Sebelumnya, penyelenggaraan SIEM 2012 dipermasalahkan terkait pemilihan Taman Balekambang sebagai lokasi penyelenggaraan. Banyak kalangan mulai dari DPRD, seniman, budayawan, pemerhati budaya dan aktivis lingkungan yang menyampaikan keberatan.
Alasannya, Balekambang meskipun merupakan pusat pengembangan seni dan budaya, telah ditetapkan pula sebagai kawasan konservasi flora dan fauna. Pihak yang kontra itu khawatir penyelenggaraan acara sekaliber SIEM akan mengakibatkan kerusakan serius terhadap kawasan yang dilindungi itu. Mereka mendesak agar SIEM dipindahkan ke tempat lain dan desakan itu disetujui Walikota Solo, Joko Widodo.
Ditanya apakah perubahan konsep itu terkait dengan pro dan kontra tersebut, serta berbagai permasalahan yang muncul kemudian, Bambang menampiknya. Menurutnya, perubahan konsep itu sudah dipikirkan sejak lama.
Meski ada perubahan konsep maupun tempat penyelenggaraan, Bambang mengatakan sejauh ini tidak berpengaruh pada para penyaji yang akan berpentas di acara itu. Demikian pula terhadap materi sajiannya.

Tak banyak pelukis yang secara detail membeber motif batik dalam lukisannya. Dari yang sedikit itu muncul nama Agus Siswanto. Lelaki yang akrab disapa Agussis ini sedang merampungkan sekuel lukisan batiknya.
Dalam sapuan kanvasnya, Agussis intens mengangkat motif batik khas Solo seperti truntum, wahyu tumurun, delima hingga wirasat. “Saya ingin lukisan ini mampu memotivasi masyarakat untuk semakin mencintai batik, terutama batik Solo,” ujarnya di sela-sela pameran di House of Danar Hadi, Jumat (22/6/2012).
Agussis mengaku terinspirasi dengan semakin banyaknya warga yang mengenakan batik dalam keseharian. Fenomena itu pun diterjemahkannya dalam lukisan. Selain proses membatik, Agussis memotret kegiatan warga yang berkaitan dengan batik seperti berbelanja, hunting foto batik dan lain sebagainya. “Di sini saya mengadopsi batik sungguhan. Jadi ada pakem yang harus saya terapkan. Tidak asal melukis.”
Lelaki yang terkenal dengan goresan naifismenya ini mengungkapkan, ia telah menyelesaikan 18 lukisan batiknya sejak mulai berproses 2011 lalu. Agussis mengaku masih akan membuat tujuh lukisan lagi untuk melengkapi sekuel lukisan bertema Batik Mendunia itu.
“Rencananya, lukisan-lukisan tersebut akan saya bawa di Jakarta untuk pameran tunggal, November mendatang,” tutur suami Narsasi Dewi ini.